November 23rd, 2017

(Source: sensualkisses)

BAPERSANGKA

kunamaibintangitunamamu:

Ketika sepotong chat tidak bisa lagi menjadi tiket masuk ke dalam kehidupan seseorang, maka yang bisa kita lakukan hanyalah melihat IG story-nya.

Kalian pernah tidak, merasa sebegitu mendebarkannya ketika melihat lingkaran foto dia berwarna merah di barisan story kalian? Ingin melihat, tapi rasanya tidak akan kuat mengetahui dia menghabiskan waktu tanpa melibatkan kita. Ingin dibiarkan, tapi kok ya penasaran.

Lalu, akan pernah ada satu fase di mana jembatan komunikasi yang ada hanya sebatas lihat-lihatan IG story. Dari yang reaksi awalnya marah, sedih, kecewa, lalu perlahan-lahan berubah jadi biasa saja karena kita bertoleransi atas apa yang dia lakukan. Kalian akhirnya menyimpulkan; kalau kalian berdua baik-baik saja, walau tanpa kehadiran satu sama lain.

Aku pernah demikian.

Kadang-kadang, aku menemukan secarik berita tentang kesehariannya yang rasanya sangat asing di pengetahuanku sekarang atau sepenggal tulisan puitis lewat IG story-nya yang entah dialamatkan kepada siapa. Rasanya, ternyata semerisaukan ini ya?

Dan, mungkin yang dia lupa adalah aku perempuan yang suka bapersangka. Yang walaupun semua tulisan itu memang bukan ditujukan untukku, aku akan dengan suka rela menganggap itu untukku. Biarlah, biar aku merasa senang meski hanya boleh dalam pikiranku saja.

Lingkaran merah tidak pernah semenggoda itu, kalau bukan milik dia. Bayangkan, sesering apa aku mengetik namanya di kolom search, hingga akunnya berada di peringkat teratas list suggested. Semua demi agar aku tidak terlewatkan sedikit pun kabar tentang dia.

Lalu, aku sadar, aku hanya tak pernah punya cukup daya untuk mengabaikannya.

Tapi, ya, pada akhirnya keresahan ini hanya boleh berakhir pada sebatas konflik batinku saja. Tak akan pernah ingin kusampaikan padanya. Walaupun dia sudah membaca ini diam-diam, walaupun dia menyalahkan kebapersangkaan-ku, walaupun dia sangat ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Karena, aku rasa, sekarang semuanya sudah tidak perlu lagi atau mungkin, tidak tepat lagi waktunya.

November 14th, 2017
Seseorang yang dulu bahkan hadirnya tak kuanggap sama sekali, kini menjadi seseorang yang tubuhnya paling kucari di setiap aku pergi.
(via mbeeer)
November 12th, 2017

shittowatch:

Comet (2014)

(via coral)

kalau hari itu dia nanya:

“dulu pas pertama ketemu aku, kamu mikir apa tentang aku?”

sudah pasti aku akan jawab:
“pengen ketemu kamu lagi.”

—cindyjoviand

November 6th, 2017

Malam

hujanmimpi:

Aku pernah begitu mencintai malam hanya karena ada kamu yang selalu hadir, dengan cerita-cerita yang mampu melepas dahaga.⠀⠀⠀⠀

Aku pernah begitu membenci malam sebab adanya membuat isi kepala tak lagi mau berjuang, justru hadirnya membuat rasa ingin menyerah menyerang.⠀

Aku pernah begitu merindukan malam hanya untuk dengarkan deru napasmu di penghujung lelah, meski raga terlalu sering menahan kantuk. Namun membiarkanmu lebih dulu terlelap adalah kebahagiaan yang tak ingin dilewatkan.⠀⠀⠀⠀

Aku pernah begitu mengutuk hadirnya malam, sebab tak lagi ada kamu yang berbicara di ujung telepon. Keluhkan seluruh hari, ceritakan seluruh asa, bahkan ucapkan setitik rindu. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀

Malam denganku seringkali bersiteru, tapi malam denganku juga bisa sangat bersahabat. Dan untuk kamu yang kerap aku temui pada malam-malam yang terlalu bising. Percaya saja, bila tak ada yang mampu berikan tenang itu, aku masih mampu untuk kamu temui.

November 2nd, 2017

(Source: sensualkisses)

kita;

rumahsepi:

kita adalah apa-apa yang tak tuntas; cerita yang berakhir di bulan pertama, pelukan yang tak genap, genggaman yang terlepas.

dan malam menjadikan jalan-jalan menjadi sepi, menjadi muram. sesepi sendiri, semuram wajah yang mempertanyakan dapatkah kita kembali bersama.

musim berganti, air mata hanyalah gerimis tua yang jatuh pada tissue-tissue, pada kaus tidurmu.

di penghujung hari ini, sedih memaafkanmu.

August 19th, 2017

Perjalanan Mengingat Masa Lalu

Makassar - Surabaya - Yogyakarta, 19 Juli 2017.

Perjalanan bisa jadi pelarian dari rasa takut, bisa pula pencarian untuk membunuh rasa takut.

Lupa pernah baca di mana kata-kata tersebut tetapi memang benar, cara membunuh rasa takut itu dengan menghadapinya. maka tepat sebulan yang lalu “perjalanan” itu dimulai.

Perjalanan bukan sekedar untuk menghabiskan uang, membeli tiket pesawat ataupun reservasi hotel. sama sekali bukan.

Perjalanan itu maknanya lebih dalam daripada sekedar mengambil foto diri sebagai bukti dan kenangan. Perjalanan itu adalah media renungan, pencarian makna hidup, dan cara lain untuk merindukan pulang ke rumah.

Aku memulai perjalanan untuk kembali mengingat, perjalanan yang sedikit berat karena aku harus mundur. karena itu artinya, seberapa keras aku berteriak, seberapa kencang aku menangis, berkali-kali aku mencoba perjalanan ini adalah perjalanan mengembalikan ingatan. bukan untuk memperbaiki, hanya saja ingin membebaskan penyesalan yang selama ini ku penjara jauh di dalam hati.

Seperti yang pernah ditulis oleh mangatapurnama, “bagiku, kota yang menyenangkan bukan perkara ‘berapa banyak tempat wisatanya’ tetapi ‘siapa yang nantinya bisa ku temui di sana.’

Yogyakarta. kota yang cukup menyebalkan. menciptakan rindu bahkan sebelum sempat ditinggalkan. ada janji yang sempat kita ucapkan hingga kemudian menguap ke tiap-tiap sudut kota nya. ada rindu yang tak (sempat) tersampaikan hingga kemudian terabaikan. ada kopi yang ku nikmati sendiri menyisakan beberapa kenangan yang ku replay dalam ingatan kini. ada senja yang sengaja ku curi di langit Parangtritis dan di setiap langit kota Yogyakarta agar aku bisa kembali bertemu dengan dirimu di tempat tanpa cahaya tetapi masih ku ingat betul jalannya. ada keharusan untuk kembali ke sana meski tanpa kita. ada keharusan untuk menghabiskan waktuku di sana meski tanpa kamu.

Tidak ada yang ingin dilupakan, masa lalu pun demikian. itulah mengapa dia tidak pernah tidur tenang dan selalu mencari celah untuk datang ke dalam pikiranku di setiap kesempatan.

Butuh dari sekedar pergi untuk melupakanmu, dan aku tak pernah tau apa itu.

March 11th, 2017

Sebab Jarak adalah Sahabat Kekasih yang Paling Dekat.

petrikorsore:

image

Dua tahun satu bulan—bukan waktu yang lama untuk kami menyebut satu sama lain sebagai significant other. Hanya saja, seperti hubungan jarak jauh lainnya, kami harus menempuh 40 menit perjalanan udara ataupun 10-12 jam perjalanan darat untuk setidaknya, menatap mata satu sama lain sambil bercerita santai atau menonton film di bioskop.

Hubungan jarak jauh adalah sesuatu yang begitu skeptis bagi banyak orang untuk dijalani. Kami pun sempat meragukan hubungan jarak jauh sebelum benar-benar sepakat untuk menjalaninya bersama-sama sebagai significant other satu sama lain. Apalagi saat itu saya harus menunggu 5-7 hari untuk dapat menghubunginya lewat Line atau telepon, itu pun jika tidak ada hal-hal yang mengganggu sebab saya bisa menunggu hingga 2 minggu untuk sekedar menanyakan kabar dan keadaan. Untungnya, saya bukan orang yang terlalu bawel untuk urusan hubung-menghubungi, terlebih jika ada kabar yang jelas dan benar-benar mendesak. Selama kami berpacaran, tidak jarang ia menceritakan berbagai masalah hubungan jarak jauh yang dialami teman-temannya hingga suatu saat, ia bertanya, “Kenapa kamu masih mau sama aku? Kita kan LDR.”.

Saya pun masih tidak tahu harus menjawab seperti apa apabila teman-teman bertanya, “Kenapa mau LDR? Yang dekat juga masih banyak.”, ataupun “Kok kamu bisa tahan sih LDR?”. Saya hanya menjawab sekedarnya, sebab saya bukan orang yang mau menjelaskan terlalu panjang dan dalam pada orang-orang banyak. Tapi yang jelas, saya pun masih tidak tahu jawaban yang pasti mengenai kenapa kami bisa tetap bersama lebih dari dua tahun.

Sekali lagi, saya bukan tipe perempuan bawel yang harus dikabari setiap 10 menit, apalagi jika ada kabar yang jelas seperti “Aku sedang sibuk.” ataupun “Sedang ngobrol dengan Ayah, sebentar ya.”. Bukan juga tipe perempuan yang selalu curiga, mungkin karena kami selalu bercerita tentang apapun termasuk ketika beberapa laki-laki mengajak saya kencan dan saat ia mendapat beberapa makanan ringan dengan notes penyemangat dari ‘penggemar rahasia’. Bukan pula tipe perempuan yang gemar membaca quotes galau yang klise—saya follow Dagelan pun juga tidak. Mungkin beberapa hal di atas menjadi beberapa alasan kenapa saya masih bisa menjalani hubungan jarak jauh, sebab ada salah satu teman perempuan yang sering bertengkar dengan pacar jarak jauhnya dikarenakan jarang diberi kabar. Saya memang kesepian, tapi tak menyedihkan.

Laki-laki yang secara jarak dekat dengan saya memang banyak, tapi jelas saya memasang standar tertentu dalam memilih pasangan. Traits yang ada dalam dia sangat susah ditemukan dalam laki-laki yang sering saya temui. Saya pun mungkin dapat mengagumi personality teman laki-laki saya, tapi tak cukup membuat saya jatuh cinta. Ah, saya jadi ingat betul saya juga orang yang susah untuk jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Jadi, ‘yang dekat kan, ada!’ bukan menjadi satu masalah lain dalam saya menjalani hubungan jarak jauh. Toh saya lebih baik bersama dengan orang yang tepat namun jauh, daripada bersama orang yang dekat tapi tak pernah akur.

Pun begitu, bukan berarti kami tidak pernah bertengkar. Kadang saya pun menjadi begitu kekanakkan dan mogok bicara, namun ia terlalu mengerti saya untuk membuat saya marah lebih dari dua hari. Kami juga pernah mengalami masa-masa paling krisis dalam sebuah hubungan, namun pada akhirnya kami menyerah pada fakta bahwa kami berdua tidak bisa menyatakan talak pacaran untuk satu sama lain karena berbagai alasan masuk akal yang mengalahkan emosi dan ego. We’re love fools, in a very rational way.

Hubungan jarak jauh memang tidak enak, bagi orang yang memang tidak mau. Sebab dari awal, kami tahu bahwa hubungan kami akan begitu berat; ia laki-laki yang ingin selalu bisa bertemu dan saya perempuan yang mudah rindu. Pun hal-hal lain seperti terbatasnya komunikasi dan kesibukan masing-masing menjadi ‘cobaan’ lain dari hubungan kami. Tapi: ada niat, ada jalan. Kami merasakannya sekarang; walaupun kami tak punya waktu yang tetap untuk bertemu, kami telah berjanji untuk menjalaninya sampai akhir. Akhir, hingga benar-benar pada alasan masuk akal untuk mengalahkan alasan masuk akal lainnya dalam mempertahankan hubungan kami. Dan terutama saya, masih merasa sangat nyaman untuk menjalani hubungan jarak jauh ini (entah dengan dia).

Toh kenyataannya, hubungan jarak jauh mengajarkan saya banyak hal. Komunikasi, sebab saya paling payah dalam bidang itu (tapi dia tetap mengerti!). Menjaga emosi (walaupun saya masih kekanakkan). Melibatkan Tuhan lebih sering, sebab hanya Tuhan yang paling bisa bercanda tanpa mengenal waktu dan situasi. Dan menjaga kepercayaan satu sama lain dalam jarak.

Karena dalam hubungan jarak jauh, satu-satunya yang bisa kami hiraukan adalah kenyataan bahwa ternyata bukan jarak yang menjauhkan sepasang kekasih, tetapi komitmen dan kedewasaan di antara keduanya.

image
November 26th, 2016
tidak pernah melihat hadiah yang kekal selain do'a dan kasih sayang. semoga do'a baik teman-teman diijabah sama Allah aamiin. semoga tahun depan tiup lilin lagi aamiin. ❤

tidak pernah melihat hadiah yang kekal selain do'a dan kasih sayang. semoga do'a baik teman-teman diijabah sama Allah aamiin. semoga tahun depan tiup lilin lagi aamiin. ❤

November 18th, 2016

beku

rumahsepi:

image

Ada begitu banyak yang ingin kubagi, begitu banyak yang ingin kujalani; bersamamu.

Jika saja sebuah sapaan dapat mencairkan kebekukan di antara kita, aku akan melakukan sebanyak yang aku mampu. Namun seperti kau tahu, kita telah membeku. Sebongkah es tak mampu dicairkan hanya dengan segelas air hangat. Tidak hanya dariku.

Aku pernah percaya, selama kita bersama, kita dapat melakukan apa saja. Melewati segalanya. Namun rasa percaya ini berubah menjadi kesombongan dan pada akhirnya harus bertekuk lutut di hadapan hidup yang tak mengizinkan semua berjalan seperti yang diharapkan. Kamu meragu, aku tak mampu meyakinkanmu dan kita menjadi dua orang asing yang tak pernah benar-benar asing.

Ada begitu banyak yang ingin kubagi, begitu banyak yang ingin kujalani bersamamu, tapi mungkin bukan jatahku, bukan jalanku menjagamu. Maka kutitipkan doa pada semesta, di hidup yang tak baik-baik saja, semoga kau akan baik-baik saja. Dan kamu selalu tahu:

aku menjagamu dari jauh.

selalu.

October 15th, 2016

:)

(Source: nubbsgalore, via diafifah)

October 9th, 2016

133.

mempuisikan:

jika waktu dapat kupetik dan kusimpan, akan kurakit lemari besar yang tingginya melampaui kerinduanku. di sana, kusimpan lebih dari seribu masa. lilin-lilin kunyalakan dengan hal yang kausebut harapan. kemudian kusiapkan hatiku menunggu tanpa bertanya.

tetapi tak satu jarum jam pun mampu menipu sepasang mata dan telingaku. aku mendengar detiknya lebih jelas dari bunyi langkah kedatanganmu, dan kulihat lajunya lebih lambat dari sepasang lengan yang menjauh. tak pernah kukira penantian begitu lumpuh di hadapan tabahku.

bagiku, kau hanya perlu sekali saja berlalu, dan meminta kita tetap ada selama aku menunggu. sementara aku meratap rindu, langit di atas sana sering menjatuhkan hujan. ia menyentuh dua perasaan yang berbeda. di tempatku, basahnya luruh tanpa memadamkan kerinduan panjang yang membakar. di tempatmu, ia menetes deras tanpa membiarkan kau mengingatku.

andai aku mulai kehilangan arah, bukankah seharusnya kau menuntunku sekali lagi?

atau jika telah kautemui hati terbaik yang tulusnya melampaui penantianku; yang rindunya jauh lebih tua dari tahun-tahun kerinduanku; yang cintanya memahamimu melebihi siapapun termasuk aku, katakanlah.. sebab tak ada yang lebih kusyukuri, dari embus kabar pembawa kepastian sepasang hati.

:“””“)